Jumat, 07 April 2017

NGERESUME PENDIDIKAN 3 "INTLIGENSI"



       INTELIGENSI
Inteligensi adalah salah satu milik kita yang paling brharga, ttapi orang cerdas sekalipun tidak sepakat apa itu intelignsi. Berbeda dengan berat dan tinggi badan dan usia, inteligensi tidak bisa diukur scara langsung. Anda tidak bisa mengintip kpala siswa anda untuk mngamati intelignsi yang ada di dalamnya. Kita hanya bisa mengevaluasi inteligensi yang ada di dalamnya. Kita hanya bisa mengvaluasi siswa lewat tindakan inteligeensi siswa. Kita banyak mengandalkan pada tes inteligensi  untuk memperkirakan inteligensi siswa.
Bbrapa pakar mendskripsikan intelignsi sebagai keahlian untuk memecahkan masalah. Yang lainnya mendeskripsikannya sebagai kemampuan untuk bradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Dengan mengkombinasi ide-ide ini kita dapat menyusun defenisi inteligensi yang cukup fair. Sebuah definisi inteligensi  yang didasarkan pada teori vygotsky harus juga memasukkan faktor kemampuan seseorang untuk menggunakan alat kebudayaan dengan bantuan individu yang lebih ahli.
Minat terhadap inteligensi sering kali difokuskan pada perbedaan individual dan penilaian individual( kaufman & Lictenberger, 2002; Lubinski, 2000; Molfse & Martin, 2001). Perbedaaan individual adalah cara dimana seseorang berbeda satu sama lain dalam hal kepribadiannya dan dalam bidang-bidang lain, namun inteligensilah yang paling banyak diberi perhatian dan paling banyak dipakai  untuk menarik kesimpulan tentang perbeedaan kemampuan siswa.

Tes Inteligensi Individual
Robert J. Sternberg mengingat saat dia kecil dia sangat takut mengikuti Tes IQ. Dia mengatakan bahwa dia benar-benar menggigil ketakutan saat tes tiba. Bahkan sebagai seorang dewasa, stenberg merasa malu jika ingat saat ia berada di grade enam dan mengikuti tes IQ bersama pelajar dari grame lima. Sternberg akhirnya berhasil mengikuti tes IQ . dia bukan hanya saja bisa menjalani tes secara baik, tetapi pada usia 13 tahun dia menyusun sendiri ts IQ-nya dan mulai meenggunakannya untuk mengtes siwa di kelasnya sampai kepala sekolah mengetahuinya dan mengurnya.

  Tes Binet
Pada 1904 Mnteri Pendidikan Prancis meminta psikolog Alerd Bint untuk menyusun metode guna mengidentiikasikan anak-anak yang tidak mampu belajar di sekolah. Para pejabat di sekolahan ingin mengurangi sekolah yang penuh sesak dengan cara meemindahkan siswa yang kurang mampu belajar di sekolah umum ke sekolah khusus.
Tes ini terdiri dari 30 pertanyaan, mulai dari kemampuan untuk mnyentuh telinga hingga kemampuan untuk menggambar desain berdasarkan ingatan dan mendefinisakan konsep abstrak. Binet mengembangkan konsep mental age (MA) atau usia mental. Yakni mental perkembangan indivdu yang berkaitan dengan perkembanganlain. Yaitu usia mental seseorang dibagi dngan usia mental sama dengan usia kronologis, maka IQ orang itu adalah 100.
Ts Bint direvisi berkali-kali disesuaikan dengan kemajuan dalam pemahan inteligensi dan tes intelignsi. Rvisi-revisi ini disbut ts Stanford-Binet.(sbab revisi itu dilakukan di Stanord University). Banyak orang dari usia berbeda dan latar belakang yang beragam, peneliti menemukan bahwa tes pada  Stanford Binet mendekati distribusi normal.

Skala Wechsler
skala wechsler yang dikembangkan oleh David Wechsler. Selain menunjukkan tes secara keseluruhan, skala wechsler juga menunjukkan IQ vrbal dan IQ kinerja. IQ vrbal didasarkan pada nam subskala verbal, IQ kerja didasarkan pada lima subskala kinerja.

Tes Individual versus Tes Kelompok
Seorang psikolog memahami penelitian intelignsi individual sbagai interaksi antara pemeriksa dan siswa. Selam pengujian, peneliti mngamati bagaimana laporan disusun, minat dan perhatian siswa, apakah ada kecemasan dalam pengerjaan tugas, dan tingkat toleransi siswa menghadapi rasa prustasi
Tes kelompok lbih nyaman dan ekonomis ketimbang tes individual,namun juga ada kekurangannya. Saat tes dilakukan pada suatu kelompok besar, pneliti tidak dapat menyusun laporan individual, menntukan tingkat kcmasan siswa dan sbagainya. Banyak siswa yang mengikuti tes dalam kelompok bsar di sekolah, tetapi keputusan untuk menempatkan siswa dalam kelas khusus anak berbakat, sebaiknya tidak didasarkan pada tes kelompok saja. Dalam kasus seperti itu informasi relevan tentang kemanpuan siswa harus diperoleh dngan cara selain menggunakan tes.

Teori Multiple Intligences
Pandangan Awal. Binet dan Stern memfokuskan pada konsep inteligensi umum yang oleh Stern dinamakan IQ. Wechsler percaya bahwa mungkin dan perlu untuk mendeskripsikan baik itu inteligensi umum maupun inteligensi verbal.
Sejak awal 1930-an L.L Thurstone(1938) mengatakan orang mempunyai tujuh kemampuan intelektual spesifik, yang dinamakan kemampuan primer, pemahaman vrbal, kemampuan angka, kefasihan kata, visualisasi spasial, memori asosiatif, penalaran dan kcepatan persepsi.

Teori Triarkis Sternberg
Menurut teori inteligensi triarkis dari Robrt J. Sternbrg(1998-2000), intlignsi muncul dalam bentuk: analitas, kratif, dan praktis. Inteligensi analitas adalah kemapuan untuk menganalisis, menilai, mengvaluasi, membandingkan, dan mempertentangkan.

Delapan Kerangka Pikiran Gardner
Kerangka ini dideskripsikan bersama dengan contoh pekerjaan yang mereflekasikan kekuatan masing-masing krangka(campbell, campbell & Dickinson, 1999)
1.      Keahlian vrbal
2.      Keahlian matematika
3.      Keahlian spasial
4.      Keahlian tubuh-kinesttik
5.      Keahlian musik
6.      Kealian intrapersonal
7.      Keahlian interpersonal
8.      Keahlian naturalis
 Gardner percaya bahwa masing-masing bentuk inteligensi dapat dihancurkan oleh pola kerusakan otak tertentu. Yang bmasing-masing melibatkan keahlian kognitif yang unik, dan masing- masing tamp-ak dalam cara unik baik di dalam diri orang brbakat atau idiot yang mengalami retardasi mental tapi punya bakat hebat dalam domain tertentu.
Proyek spektrum
Adalah usaha inovatif yang dilakukan Gardner untuk menguji delapan inteligensi anak-anak. Proyek ini diawali dengan id dasar bahwa setiap orang punya potensi untuk mengembangkan kekuatan di satu atau dua daerah.
Kelas ini memiliki banyak materi yang dapat menstimulasi berbagai intelignsi. Akan ttapi , guru tidak berusaha merangsang inteligensi scara langsung dengan mengelompokkan aktivitas yang sama yang dibri label “spasi” “verbal” dan sebagainya. Kelas ini juga dapat mengungkapkan kemampuan yang biasanya tidak tampak dalam kelas reguler


NGERESUME PSIKOLOGI PENDIDIKAN 2



SELAYANG PANDANG PSIKOLOGI PEDIDIKAN
Psikologi pendidkan adalahcabang dariilmu psikologiyang mengkhususkan diripada cara memahami pengajaran dan pembelajarandalam lingkungan.
Latar Belakang Historis
Bidang latar belajkang psikologi didirikan oleh beberapa perintis bidang psikologi sebelum awal abad ke-20.
Ada 3 perintis diawal sejarah psikologi
Willliam james
William james(1842-1910) memberikan serangkaian kuliah yang bertajuk”Talk to Teachers”(JAMES,1899/1993) dalam kuliah ini ia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak.james mengatakan bahwa eksperimen psikologidi laboraturium sering kali tidak bisa menjelaskan kepada kitabagaimana cara mengajar anaksecara efektif.salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titikyang sedikit lebih tinggidi atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
John Deweydewey
John Dewey (1859-1952) ia menjadi motor penggerk untuk mengaplikasikan psikologi di tingkat praktis.dewey membangun pendidikan pertama di AS , di universitas Chicago, 1894.sebelum dewey mengemukakan pandangan iniada keyakinan bahwa semestinya anak-anakduduk diam di kursi mereka dan mendengarkan pelajaran secara pasif dan sopan. Sebaliknya,Dewy percaya bahwa analk-anak akan belajar lebih baik jika mereka aktif. Dari dewey kita mendapatkan penjelasan anak secara kesluruhan akan beradaptasi dengan lngkungannya. Dewey percaya bahwa anak-anak seharusnya tidak hanya mendapat pelajaran akademik saja, tetapijuga harus di cari cara untuk berpikir dan beradaptasi dngan dunia di luar sekolah. Dia secara khusus berpendapat bahwa anak-nak harus belajar agar mampu memecahkan masalah secarareflektif.


E.L.Thorndike
perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah. Thorndike berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike mengajukangagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya bias ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran(O’Donnel & Levin,20010

Diversitas dan psikologi pendidikan awal
Tokoh paling menonjol dalam sejarah psiologi pendidkan kebanyakan adalah pria putih. Seperti james, Dewey, Thorndike. Dua tokoh Amerikaketurunan Afrika yang menonjol dib dang psikologi adalah Mamie dan Kenneth Carlk thn 1939
Perkembangan lebih lanjut
Dalam ilmu psikologi Amerika , pandangan B.F. Skinner(1938) yang didasarkan pad aide-ide Thorndike, sangat mempengaruhi  psikolgi pendidkan  pada pertengahan abad 20. Pendekatan prilaku ala skinner, yang akan di cskripsikan secara rinci menggunakan kondisi terbaik untuk belajar secara tepat. Skinner berpendaat bahwa proses menta yang dikemukakan oleh pskolog seperti james dan Dewey adalah proses yang tidak dapat diamatidan karenanya tidak bisa menjadi subyek studi psikologi ilmiah yang menurutnya dan ilmu tentang kondisi-kondisiyang mengendalikan lingkungan..  
Sebagai eaksinya , pada tahun 1950-an Benjamin Bloom menciptakan taksonomikeahlian kognitif yang mencakup pengingatan, pemahaman, dan pengevaluasian, yang menurutnya harus dipakai dan dikembangkan oleh guru untuk membantu siswa-siswanya. Selama bebrapa dekade terakhir abad ke-20, ahli psikologi pendidikan juga semakin memperhatikan pada aspek sosioemosional dari kehidupn siswa.
Mengajar:Antara seni dan ilmu pengetahuan
  1. Bidang psikologi pendidikan banyak mengambil dari teori dan riset psikologi yang lebih luas. Misalnya, teoi Jean Piaget Vygotsky tidak diciptakan dalam rangka member informasi bagi guru tentang cara mendidik anak. Sebagai sebuah ilmu, tujuan psikologi pendidikan adalah member anda pengetahuan riset yang dapat secara efektif diaplikasikan untuk situasi engajar. Tetapi pengajaran anda tetap merupakan sebuah mengajar.
2         Memahami Perbedaan Siswa (Diversity of Student)
Setiap individu dilahirkan dengan membawa potensi yang berbeda-beda, tidak ada yang sama antara siwa satu dengan siswa yang lainnya. Oleh karena itu, seorang guru harus memahami keberagaman antara siswa satu dengan siswa yang lainnya, mulai dari perbedaan tingkat pertumbuhannya, tugas perkembangannya sampai pada masing-masing potensi yang dimiliki oleh anak. Dengan pemahaman guru yang baik terhadap siswanya, maka bisa menciptakan hasil pembelajaran yang efektif dan efisien serta mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.
Untuk Menciptakan Iklim Belajar yang Kondusif di dalam Kelas
Kemampuan guru dalam menciptakan iklim dan kondisi pembelajaran yang kondusif mampu membantu proses pembelajaran berjalan secara efektif. Seorang pendidik harus mengetahui prinsip-prinsip yang tepat dalam proses belajar mengajar, pendekatan yang berbeda menyesuaikan karakteristik siswa dalam mengajar untuk menghasilkan proses belajar mengajar yang lebih baik. Disinilah peran psikologi pendidikan yang mampu mengajarkan bagaimana seorang pendidik mampu memahami kondisi psikologis dan menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif,  sehingga proses pembelajaran di dalam kelas bisa berjalan secara efektif.
  1. Untuk Memilih Strategi dan Metode Pembelajaran
Sebagai sorang pendidik dalam memilih strategi dan metode pembelajaran harus menyesuaikan dengan tugas perkembangan dan karakteristik masing-masing peserta didiknya. Hal ini bisa didapatkan oleh seorang guru dengan mempelajari psikologi terutama tugas-tugas perkembangan manusia. Jika metode dan model pendidikan sudah bisa disesuaikan dengan kondisi peserta didik, maka proses pembelajaran bisa berjalan dengan maksimal.


2.      Memberikan Bimbingan dan Pengarahan kepada Siswa (Konseling)
Selain berperan sebagai pengajar di dalam kelas, seorang guru juga diharapkan bisa menjadi seorang pembimbing yang mempu memberikan bimbingan kepada peserta didiknya, terutama ketika peserta didik mendapatkan permasalahan akademik. Dengan berperan sebagai seorang pembimbing seorang pendidik juga lebih bisa melakukan pendekatan secara emosional terhadap peserta didiknya. Jika sudah tercipta hubungan emosional yang positif antara pendidik dan peserta didiknya, maka proses pembelajaran juga akan tercipta secara menyenangkan.
Mengevaluasi Hasil Pembelajaran
Tugas utama guru/pendidik adalah mengajar di dalam kelas dan melakukan evaluasi dari hasil pengajaran yang sudah dilakukan. Dengan mempelajari psikologi pendidikan diharapkan seorang pendidik mampu memberikan penilaian dan evaluasi secara adil menyesuikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya.
  1. Berinteraksi secara tepat dengan siswanya
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
2.      Menilai hasil pembelajaran yang adil
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.
3.      Menetapkan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran mengacu pada perubahan perilaku yang dialami siswa setelah dilaksanakannya proses pembelajaran. Psikologi pendidikan membantu guru dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran.
Penggunaan Media Pembelajaran
Pengetahuan tentang psikologi pendidikan diperlukan guru untuk merencanakan dengan tepat media pembelajaran yang akan digunakan. Misalnya penggunaan media audio-visual, sehingga dapat memberikan gambaran nyata kepada peserta didik.
  1. Penyusunan Jadwal Pelajaran
Jadwal pelajaran harus disusun berdasarkan kondisi psikologi peserta didik. Misalnya mata pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa seperti matematika ditempatkan di awal pelajaran, di mana kondisi siswa masih segar dan semangat dalam menerima materi pelajaran.
2.      Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.
Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan psikologi pendidikan berperan dalam membantu guru untuk merencanakan, mengatur dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar di sekolah.


Selasa, 04 April 2017

hasil observasi yunita. NIM 161301009

Hasil Observasi di Sekolah SMA Swasta Eria Medan 


IDENTITAS SEKOLAH

 Nama Sekolah  : SMA SWASTA ERIA MEDAN
Tahun Berdiri    : 1960
Alamat Sekolah : Jalan Sisingamangaraja No.195
Tgl pelaksanaan :jum'at, 31 Maret 2017
Waktu observasi: 09.50-10.25
lama observasi   : 35 menit
 Biaya Sekolah
 1. SMA KELAS X Uang sekolah : Rp. 210.000,00
 2. SMA KELAS XI Uang sekolah :Rp.210.000,00
 3. SMA KELAS XII Uang sekolah :Rp.210.000,00



  Konsep E-Learning : Belum Digunkan URAIAN OBJEKTIF OBSERVASI Observasi dilakukan di kelas XII-IPA 1, SMA Eria Medan
Suasana kelas pada saat itu sangat kondusif dan mereka juga sangat antusias dalam menerima materi yang diberikan oleh guru mereka. Laporan obsevasi.    Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas XII-IPA 1 SMA Swasta Eria Medan, ada beberapa hal yang dapat kami amati, antara lain , yaitu

 1. Konsep E-Learning SMA Swasta Eria Medan belum menggunakan konsep pembelajaran e-learning. SMA Swasta Eria Medan masih menggukan white board sebagai media untuk guru mengajar

 2. Manajemen Kelas A. Fisik • Ruangan kelas mendapat pencahaayan yang cukup • Suhu di ruangan kelas stabil • Ruangan kelas bersih • Ruangan kelas cukup sempit B. Non Fisik • Guru dapat memanajemen kelas dengan baik sehingga pembelajaran berlangsung secara kondusif

 3. Orientasi Belajar Orientasi belajar yang digunakan berupa orientasi belajar campuran, dimana antara guru dan siswa saling berinteraksi baik selama proses belajar mengajar berlangsung. Guru pembimbing menanyakan sesuatu yang belum dimengeri oleh anak didiknya, dengan begitu maka timbulah suasana kelas yang aktif, saling memberikan pertanyaan dan sanggahan apabila ada sesuatu yang mengganjal dari siswa didiknya ataupun guru pembimbing nya

4. Motivasi • Motivasi murid pada saat itu cukup tinggi. Pada saat guru mengajar dan memberikan sebuah pertanyaan murid antusias menjawab pertanyaan tanpa ditunjuk oleh guru. • Need for achievement siswa tinggi, mereka berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh guru. • Murid aktif menjawab soal dari guru.

5. Perspektif Motivasi Dari hasil pengamatan kami dapat ditemukan beberapa perspektif motivasi dalam proses pembelajaran tersebut, yaitu: • Perspektif Humanistis Perspektif ini terlihat dari diberinya kebebasan bagi siswa untuk menjawab soal yang diberikan oleh guru. • Perspektif Kognitif Perspektif ini terlihat dari antusiasnya murid menjawab soal dari guru untuk membuktikan bahwa mereka telah memahami materi tersebut. • Perspektif Sosial Perspektif ini terlihat dari hubungan antar guru dan murid yang terjalin dengan baik

 6. Rangkuman Hasil Observasi SMA Swasta Eria Medan belum menggunakan konsep pembelajaran e-learning. Hal ini tampak dari penggunaan white board sebagai media guru untuk mengajar. Motivasi siswa tergolong cukup tinggi dikarenakan siswa sangat antusias dalam menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Orientasi belajar yang terdapat selama proses pembelajaran tidak hanya menggunakan konsep teacher-centered tetapi terdapat juga konsep learner-centered. Perspektif dalam motivasi juga beragam mulai dari perspektif humanistis, perspektif kognitif, sampai perspektif sosial. Proses pembelajaran juga berjalan dengan baik dikarenakan manajemen kelas yang baik. 7.  

TESTIMONI

  I. Muhammad Syahreza (161301008) Menurut saya ini adalah pengalam pertama saya dalam melakukan observasi. Apalagi sekolah tersebut merupakan sekolah saya dulu sehingga saya makin antusias dalam melakukan observasi. Kedepannya saya berharap dapat lebih baik lagi dalam melakukan observasi

. II. Yunita (161301009) Sungguh ini merupakan pengalaman yang sangat-sangat menyenagkan sekaligus mengesankan. Kembali teringat waktu masih duduk di bangu SMA satu tahun silam. Rasanya menjadi pengamat antara seorang siswa dan guru pembimbing merupakan hal yang baru bagi saya, dapat mengunjungi lokasi dan saling berbaur dengan siswa/siswi SMA merupakan kesenangan yang tiada terkira. Dapat berbagi cerita tentang dunia perkulian kepada adik-adik SMA yang ingin lanjut ke perguruan tinggi dan sangat penasaran dengan dunia perkulian. Antusias mereka sangat besar dalam belajar, saya salut dan bangga ternyata masih ada siswa yang sangat giat dalam belajar nya

. III. Maudy Maulina (161301018) Menurut saya, ini merupakan pengalaman pertama saya dalam mengobservasi secara langsung ke sekolah dan melihat langsung bagaimana siswa tersebut menerima materi dari guru dan bagaimana mereka berkomunikasi dengan guru di dalam kelas. Menurut saya, dalam hal ini praktek langsung ke lapangan lebih efektif dibandingkan belajar teori tetapi tentu kita harus memahami teorinya terlebih dahulu sebelum melakukan observasi. Saya sangat berantusias dalam observasi in

  IV. Friska N. Mendrofa (161301052) Observasi ini adalah yang pertama kali saya lakukan. Mungkin sedikit menantang karena yang kami observasi adalah anak SMA yang notabene usianya tidak terlalu jauh dari kami. Banyak pengalaman yang saya dapat khususnya tentang pendekatan kepada anak remaja. Observasi ini sangat bermanfaat bagi saya

V. Stevany H. Sinaga (161301055) Menurut saya observasi ini adalah sebuah pengalaman baru bagi saya. Bagi saya observasi ini adalah metode yang efektif karena dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam menjalankan teori-teori yang telah dipelajari selama perkuliahan. Sehingga observasi ini menjadi suatu panutan untuk kedepannya.

VI. Michael C. Siahaan (161301076) Observasi ini merupakan suatu pengalaman baru bagi saya. Mungkin dulu melalui pandangan sebagai murid saya menganggap proses belajar mengajar adalah suatu proses yang sangat membosankan tetapi dalam observasi ini saya melihat proses belajar mengajar melalui pandangan sebagai observer (pengamat). Dalam kesempatan kali ini saya diajak untuk lebih kritis untuk mengamati hal-hal yang ada dalam proses belajar mengajar mulai dari manajemen kelas sampai motivasi siswa tersebut. Tugas observasi ini merupakan pengalaman berharga bagi saya dan mebuat saya semakin antusias untuk melakukan tugas-tugas lainnya di perkuliahan saya.

Sabtu, 01 April 2017

ngeresume psi pendidikan 1 "pendidikan multikultural"

Pendidikan Multikultural

 Definisi pendidikan multikultural Adalah pendidikan yang tidak memandang latar belakang dari seseorang, baik itu berasal dari budaya, agama, adat yang berbeda-beda. Semua memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan multikultural dapat juga diartikan sebagai pendidikan yang menghargai perbedaan dan mewadahi beragam perspektif dari berbagai kelompok kultural. Para pendukung nya percaya bahwa anak-anak kulit bewarna harus diberdayakan dan pendidikan multikultural adalah pemerataan kesempatan bagi semua siswa. Tujuan penting dari pendidkan multikultural adalah pemerataan kesempatan bagi semua siswa. Ini termasuk mempersempit gap dalam prestasi akademik antara siswa kelompok kulit putih dengan kelompok minoritas(Bennet,2003;pang,2001;Schmidt & Mosenthal,2001) 

 Memberdayakan Siswa 
 Istilah pemberdayaan(empowerment) berarti memberi orang kemampuan intelektual dan keterampilan memecahkan masalah agar berhasil dan menciptakan dunia yang lebih adil. Pendidikan multikultural dititikberatkan pada usaha memberdayakan siswa dan memperbaiki representasi kelompok minoritas dan kultural dalam kurikulum dan buku ajar. Menurut pandangan ini, sekolah harus memberikan kesempatan untuk belajar tentang pengalaman, perjuangan dan visi dari berbagai kelompok kultural dan etnis yang berbeda-beda(Banks, 2001,2002,2003). Harapan dari semua ini adalah untuk meningkatkan rasa harga diri minoritas, mengurangi prasangka, dan memberikan kesempatan pendidikan yang lebih setara. Sonia Nieto(1992), seorang keturunan Puerto Rico yang besar di New York City, percaya bahwa pendidikannya membuatnya merasa latar belakang kulturalnya kelihatan agak buruk. Dia memberikan rekomendasi sebagai berikut:

  •   Kurikulum sekolah harus jelas antirasis dan antidiskriminasi
  • .  Pendidikan multikultural harus menjadi bagian dari setiap pendidikan siswa.
  Siswa harus dilatih untuk lebih sadar budaya(kultur) Pengajaran yang Relevan Secara Kultural Pengajaran yang relevan secara kultural adalah aspek penting dari pendidikan multikultural(Gay,2000;Irvine & Armento,2001) Pakar pendidkan percaya bahwa guru yang baik akan mengetahui dan mengintegrasikan pengajaran yang relevan secara kultural ke dalam kurikulum karena akan membuat pengajaran yang relevan secara kultural ke dalam kurikulum karena akan membuat pengajaran yang lebih efektif(Diaz,2001).

Peneliti lain telah menemukan bahwa banyak siswa Asia-Amerika lebih menyukai pembelajaran visual ketimbang anak Erofa-Amerika(Litton,1999;park,1997). Jadi untuk siswa seperti ini, guru bisa menggunakan metode tiga dimensional, grafik,foto, diagram, dan tulisan di papan tulis. Pendidikan yang Berpusat pada Isu Dalam pendidikan ini, siswa diajari secara sistematis untuk mengkaji isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan dan keadilan sosial. Pendidikan ini tidak hanya mengkalrifikasi nilai, tetapi juga mengkaji alternatif dan konsekuensi dari pandangan tertentu yang dianut siswa. Pendidikan yang berpusat pada isu terkait erat dengan pendidikan moral, yaitu “Konteks Sosial dan Perkembangan Sosioemosional” Meningkatkan Hubungan di Antara Anak dari Kelompok Etnis yang Berbeda-beda Disini ada yang dinamakan kelas jigsaw artinya adalah kelas dimana siswa dari berbagai latar belakang kultural yang berbeda diminta bekerja sama untuk mengerjakan beberapa bagian yang berbeda dari suatu tugas untuk meraih tujuan yang sama.

Terkadang strategi kelas jigsaw ini dideskripsikan sebagai upaya menciptakan tujuan utama atau tugas bersama untuk siswa. Kontrak personal dengan Orang Lain dari Latar Belakang Kultural yang Berbeda kontrak itu sendiri tidak selalu berhasil meningkatkan hubungan. Contohnya memasukkan anak minoritas ke dalam sekolah yang didominasi Kulit PUTIH, atau sebaliknya, tidak selalu mengurangi prasangka atau memperbaiki hubungan antar-etnis(Minuchin & Shapiro, 1983). Sebuah studi komprehensif terhadap lebih dari 5000 anak grade lima dan 4000 anak grade sepuluh mengungkapkan bahwa proyek kurikulum multietnis yang difokuskan pada isu enis, kelompok kerja campuran, seorang guru dan staf sekolah pendukung, telah membantu memperbaiki hubungan antar-etnis di kalangan siswa(Forehand, Ragosta, & Rock, 1976). Ketika siswa mengungkapkan informasi personal mereka sendiri, mereka lebih mungkin untuk dianggap sebagai manusia ketimbang bagian dari suatu kelompok. Berbagai informasi personal sering kali akan melahirkan penemuan ini : orang dari latar belakang berbagi harapan yang sama, kecemasan yang sama, dan perasaan yang sama.

Berbagai informasi personal dapat membantu memecahkan rintangan yang menyekat antar kelompok dan sekat diantara kami/mereka. Pengambilan Perspektif Latihan dan aktivitas yang membantu siswa melihat perspektif orang lain dapat meningkatkan relasi antar –etnis. Dalam satu latihan, siswa-siswa belajar prilaku tertentu yang tepat dari dua kelompok kultural yang berbeda(Shirts,1997). Kemudian kedua kelompok ini saling berinteraksi satu sama lain sesuai dengan prilaku tersebut. Latihan ini didesain untuk membantu siswa memahami gegar budaya yang muncul sebagai akibat dari berada di setting kultural dimana orang berprilaku dengan cara yang berbeda dengan yang biasa dilakukan siswa. Dalam seni bahasa siswa dapat mempelajari cerita yang terkenal dan diminta untuk mengambil perspektif dari karakter-karekter yang berbeda. Mempelajari orang dari belahan dunia yang berbeda juga membantu siswa untuk memahami perspektif yang berbeda(Mazurek, Winzer, & Mazorek, 2000) Pemikiran Kritis dan Inteligensi Emosional Siswa yang belajar berpikir secara mendalam dan kritis tentang relasi antar etnis kemungkinan akan berkurang prasangkanya dan tak lagi menstereotipkan orang lain.

Siswa yang berpikir dangkal sering kali berprasangka kepada orang lain. Akan tetapi apabila siswa belajar mengajukan pertanyaan, memikirkan dahulu isunya ketimbang jawabannya, dan menunda dahulu penilaian sampai informasi yang lengkap sudah tersedia, maka prasangkanya akan berkurang. Inteligensi emosional bermanfaat bagi hubungan antar-etnis. Kecerdasan emosional berarti mempunyai kesadaran diri tentang emosi, mengelola emosi, dan menangani hubungan. Mengurangi Bias
 Berikut ini beberapa strategi antibias yang direkomendasi untik guru:
  •   Ciptakan lingkungan kelas antibias dengan memasang gambar anak dari berbagai latar belakang etnis dan kultural
  •  Pilih materi drama, seni, dan aktivitas kerja yang memperkaya pemahaman etnis dan kultural
  •   Gunakan Boneka”persona” untuk anak kecil. Enam belas boneka mewakili latar belakang kultur dan etnis yang berbeda-beda. Masing-masing boneka memiliki kisah hidup yang didesain untuk mengurangi bias. 
  •  Bantu siswa untuk menolak sterotif dan diskriminasi.
  •  Ikutlah dalam aktivitas peningkatan kesadaran untuk memahami pandangan kultural anda sendiri secara lebih baik untuk menangani stereotif atau bias yang mungkin anda miliki.
 Bangun dialog guru/orang tua yang membuka diskusi tentang masing-masing pandangan Meningkatkan Toleransi Atau yang disebut juga sebagai Teaching Tolerance Project menyediakan sumber daya dan materi kepada sekolah untuk meningkatkan pemahaman antarkultur dan hubungan antara anak Kulit Putih Dengan Kulit Bewarna(Heller & Hawkins,1994) Sekolah dan Komunikasi Sebagai Satu Tim Psikiater dari Yale, James Comer(1988) percaya bahwa tim komunitas merupakan cara terbaik untuk endidik anak. Ada beberapa aspek penting dari Comer Project, yaitu 1. Pemerintah dan tim manajemen yang mengembangkan rencana sekolah yang komperehensif, penilaian strategi, dan program pengembangan staf 2. Tim pendukung sekolah dan kesehatan mental 3. Dan program orang tua Dari keseluruhan pernyataan di atas menurut pendapat(Goldberg,1997).

Program Comer menekankan pendekatan no-fault( yakni fokus pada pemecahan masalah, bukan saling menyalahkan), tidak ada keputusa kecuali melalui konsesus dan tidak ada”paralysis”(yakni, tidak ada suara tidak setuju yang bisa menghadang keputusan mayoritas). Comer percaya bahwa seluruh komunitas sekolah harus kooperatif, bukan bersikap bermusuhan. Salah satu sekolah yang pertama mengimplikasiakan program Comer adalah SD Martin Luther King, Jr. Di New Haven, Connecticut. Ketiga program Comer dimulai disana. Seyelah 10 tahun implikasi progran Comer, nilai ujian nasional siswa mulai sama dengan standar nasional, dan setelah 15 tahun menjadi di atas standar. Meskipun tidak ada perubahan sosioekonomi di tempat yang kebanyakan dihuni orang Afrika-Amerika dan miskin ini, tingkat bolos sekolah menurun drastis, dan tidak ada lagi staf yang tidak betah. Isu Apakah Inti Nilai “putih” Mesti Diajarkan atau Tidak Beberapa pendidik menentang penwkanan pada pemberian informasi tentang kelompok etnis yang berbeda melalui kurikulum sekolah

. Mereka juga menentang pendidikan etnosentris yang menekankan pada kelompok minoritas non-Kulit putih. Kritik terhadap pandangan Schlesinger ini mengatakan bahwa nilai-nilai ini bukan khusus milik Anglo-Protestan Kulit Putih, tetapi nilai yang juga dimiliki semua kelompok agama etnis dan di Amerika. Bahkan pendidikan multikultural juga memasukkan tradisi Barat. Jadi, pendidikan multikultural dikritik oleh orang yang berpendapat bahwa semua anak seharusnya diajari satu nilai inti bersama. Terutama nilai Anglo-Protestan Kulit Putih. Namun, pendukung pendidikan multikultural tidak menentang pengajaran n ilai inti seperti itu selama ia tidak keseluruhan kurikulum.2 Secara lebih operasional Kazt (dalam Mogdil, 1986) menyatakan ada empat tujuan pendidikan multikultural, yaitu: 1. memberikan pengalaman belajar kepada siswa yang mengenalkan secara kritis dan kemampuan evaluasi untuk melawan isu-isu seperti realisme, demokrasi, partisipatory, dan exime. 2. mengembangkan keterampilan untuk klarifikasi nilai, termasuk kajian untuk mentransmisikan nilai-nilai yang laten dan manifest 3. untuk menguji dinamika keberagaman budaya dan implikasinya kepada strategi pembelajaran guru 4. mengkaji vareasi kebahasaan dan keberagaman gaya belajar sebagai dasar bagi pengembangan strategi pembelajaran yang sesuai

Adapun agar progam pendidikan multicultural berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Yakni memberikan perspektif multicultural maka strategi yang harus dilakukan adalah sebagai berikut
 1. Belajar bagaimana dan dimana menentukan tujuan, informasi yang akurat tentang kelompok-kelompok kultur yang beragam
 2. Identifikasi serta periksalah aspek-aspek positif individu atau kelompok etnik yang berbeda
 3. Belajar toleran untuk keberagaman melalui eksperimentasi di dalam sekolah dan kelas dengan     praktek-praktek dan kebiasaan yang berlainan
 4. Dapatkan, jika memungkinkan pengalaman positif dari tangan pertama dengan kelompok-kelompok budaya yang beragam
5. Kembangkanlah prilaku-prilaku yang empatis melalui bermain peran (role playing) dan simulasi
6. Praktek penggunan “perpective glasess”, yakni melihat suatu event babakan sejarah, atau isu-isu melalui perspektif kelompok budaya atau lainnya Sejarah yang memprakarsai adanya pendidikan multikultural adalah masalah HAM yang menuntut persamaan hak. Pengertian pendidikan multikultural adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian didalam dan diluar sekolah yang mempelajari tentang berbagai macam status sosial, ras, suku, agama agar tercipta kepribadian yang cerdas dalam menghadapi masalah-masalah keberagaman budaya.